Selasa, 30 Juli 2019

selinting kutu becakap

             

                        Entahlah.....

Terlampau mudah mengatasnamakan hidup
Bagaimana tidak hanya dengan lembaran kertas dunia bisa kau gagahi
Lantas bagaimana nasib gelintiran manusia yang tak memilikinya
Sandang pangan papan sudah cukup membuat otak berkelindan
Tubuh meregang kesusahan sesak melesak menuju dalam bawah pikiran
Susah melanda sudah tak asing lagi menumpuk saling tindih
Harap mengharap tak habis digantungkan lagi dikecewakan
Liku mimik telah terpasang membosankan lupa pembaruan
Gilas mengerus terus merekam jalan kehayatan
Norma susila tak lekas ia tinggalkan musabab sebersit keraguan masih melekat
Pekat bayang kematian tak lagi jadi momok yang menggentarkan
Lupa daratan lupa pula lautan
Tanah ditanam tetumbuhan laut dibenam terumbu
Tetumbuhan tlah disiakan pertiwi ayal pula terumbu lekas pada karang
Mana otak dipanggang banyak permasalahan
Hingga yg pelik menyelip enggan dilirik

Terlampau mudah mengatasnamakan hidup
Bagaimana pula justifikasi melekat rekat dengan gamangnya
Tampang rupawan elok disawang sedang sipungguk tak jadi pandang
"Ajining diri ono ing lathi" benar adanya
Melalui cakap elok perangainya
Macam pak poli'tikus' yg gemulai lidah manisnya
Mana berbau perilaku mulia manusia yg moral adanya
Esensi pun cepat berkemas dalam artian yang sesungguhnya
Malas mengultuskan makna salah artian dalam penerjemahnya
Feodalis tlah berkembang runtut kapitalis mengayun lembut
Katapula enggan lantang dicipta pujangga
Sedang pujangga kadangkala pameran semata
Terlamapau elok hidup saya sebagai manusia
Duduk termenung namun tak dapat apa apa
Lampau abai pada sekitarnya begitupun sebaliknya
Hahaha
Krusialnya saya tetap hidup walau fana