Senin, 24 Februari 2020

hening meliku




Selasar berpijak pada hari tuaku
Sesasar pandangku palingkan dari ciptamu
Sirnalah kerut daki melabas denyut nadi
Seusai ku dendang riwayat mudaku pada melodi mudamu
Rumpang terisi sekilas diperjelas oleh lakumu
Rimbun rumput rindang batang jejal pokok batangmu
Kucaci masa itu dengan kedunguanku 
Dungu tak merawatmu dungu pula tak menjagamu
Semasa kini aku tak kuasa melempar pandang pada dikau
Susut sudah kalbu menderu bila mengingat rautmu
Kutepis hampir semua pemberian tulusmu
Selintas rindu merimbit jejer pikirku
Ah...sudahlah kusesap lagi kupi tuaku
Kupi manis terasa masam dalam kecapku
Entahlah kutak tau kepuraan apalagi tindakku
Lintas kaki mungil menyapa rungu ku
Senyum tulus tanpa dosa menyayat ronggaku
Ah mengapa kurenggut adicipta dari mereka
Hasil terumbu sudah musnah dari penglihatan dia
Laut biru bermetamorfosis coklat tua
Jengkel penat merasuk raga tuaku
Demi segenggam raup uang kutebus nikmat semesta darinya
Tak sadar linting telah sampai ujungnya
Sendu meraba kaki duduk tuaku
Tangis ratap tak menyuara menyasak hati tuaku
Pijakku urun rembuk ringsak alam rimbamu
Burung nasar tak menampak lalui jalanku
Singa harimau macan mencicit dari hadapku
Ah entahlah apa kubuat hidupku
Ciptanya seakan takut akan hadirku
Seandai sura bagi kematian makhluk tangga hidupku
Rusak susun rantai makan disilang jejalan
Punggak pungguk punggungku menjulang langitmu
Atap kepalaku menantang kehendak semestamu
Rekam pijakku amblas mendekam tanah suburmu 
ah sudahlah nawa citaku tak seranum mangga itu
Tak seharum bunga kenanga tuamu
Bah ludahku seburuk limbah industri yg membunuh
Kidung langgamku seirama dengan kematian hambamu
Pahit senyata perjalanan singkatku
Umur matiku menyadar titik pelipis pemikiran tuaku
Kuasaku tak mampu mendebat maha besarmu
Rindu masa mudaku buntu anganku
Ragaku menuntut pengabdianku
Rinduku kusalurkan pada cipta mungilmu
Merawat yg tersisa menyesap seperlunya
Mengolah dengan cita mulia 
Kutitip sisa kebejatanku pada semesta pada anak cicitku
Merubah sifat burukku dan menggubah laku kejamku
Ah tak kurasa kupiku telah labas oleh bibir busukku
Selalu rindu ini pada keagunganmu modal kubertemu di peraduanmu
Rindu sempurnamu ikhlas mencintaimu


Sungguh aku merindukanmu,pertiwiku sayang

Selasa, 30 Juli 2019

selinting kutu becakap

             

                        Entahlah.....

Terlampau mudah mengatasnamakan hidup
Bagaimana tidak hanya dengan lembaran kertas dunia bisa kau gagahi
Lantas bagaimana nasib gelintiran manusia yang tak memilikinya
Sandang pangan papan sudah cukup membuat otak berkelindan
Tubuh meregang kesusahan sesak melesak menuju dalam bawah pikiran
Susah melanda sudah tak asing lagi menumpuk saling tindih
Harap mengharap tak habis digantungkan lagi dikecewakan
Liku mimik telah terpasang membosankan lupa pembaruan
Gilas mengerus terus merekam jalan kehayatan
Norma susila tak lekas ia tinggalkan musabab sebersit keraguan masih melekat
Pekat bayang kematian tak lagi jadi momok yang menggentarkan
Lupa daratan lupa pula lautan
Tanah ditanam tetumbuhan laut dibenam terumbu
Tetumbuhan tlah disiakan pertiwi ayal pula terumbu lekas pada karang
Mana otak dipanggang banyak permasalahan
Hingga yg pelik menyelip enggan dilirik

Terlampau mudah mengatasnamakan hidup
Bagaimana pula justifikasi melekat rekat dengan gamangnya
Tampang rupawan elok disawang sedang sipungguk tak jadi pandang
"Ajining diri ono ing lathi" benar adanya
Melalui cakap elok perangainya
Macam pak poli'tikus' yg gemulai lidah manisnya
Mana berbau perilaku mulia manusia yg moral adanya
Esensi pun cepat berkemas dalam artian yang sesungguhnya
Malas mengultuskan makna salah artian dalam penerjemahnya
Feodalis tlah berkembang runtut kapitalis mengayun lembut
Katapula enggan lantang dicipta pujangga
Sedang pujangga kadangkala pameran semata
Terlamapau elok hidup saya sebagai manusia
Duduk termenung namun tak dapat apa apa
Lampau abai pada sekitarnya begitupun sebaliknya
Hahaha
Krusialnya saya tetap hidup walau fana

Minggu, 16 Juni 2019

otakku dangkal





                        



           Dang²kal

Saat bulan mulai mengeram
Kau jatuhkan mentari diperaduan
Teganya engkau paksakan
Dia berdiam dalam kekalutan
Masa yg silam telah terlupakan
Yang akan datang tak engkau perdulikan
Kata pun dapat dengan enggan meninggalkan
Sesaat engkau acuhkan
Sinar mulai terang dan tak kau hiraukan
Terus termenung tak perhatikan problema kehidupan
Roda berpusing kepala terantuk antuk
Secangkir kupi kau paksakan lagi
Selinting manja kau hidupkan lagi
Melupakan kecamuk dalam diri
Tuhan kau asingkan dan tak perdulikan
Yang kau minta hanya kesenangan
Bagaimana pula engkau hantam ketidaktahuan
Sedang yg kau punya hanya rasa enggan
Sedang membudaya tak pernah kau lakukan
Membaca memperhatikan mendengarkan pun kau nihilkan
Melayangkan pandang tak mengenakkan pada yg beda sudut pandang
Memaksakan kawan diskusi sepasang dg yg kita haturkan
Mempertontonkan kedangkalan pikiran dalam kenyataan
Sungguh naif memang kita sebagai hamba-Nya
Yg telah silam hanya dapat kita kenang
Sembari gali buat pertimbangan untuk masa yang akan datang


 Pituruh,16/6/19'

Minggu, 21 April 2019

djogja istimewa



                     
                             JOGJA_LAN²

Harum petrichor serasa mewangi kala ini
Pula tangis mendung langit itu
Ayunan angin menggerayang dedaunan yang tumbuh
Gemintang dan rembulan takluk dengan sang hujan
Tak ayal tenda dan sebuah gerobak peraup rupiah terguncang
Tergoyang dan butuh kait genggaman
Bahu membahu mengeratkan kaitan jemari pada sanggahan
Diterangi hangat bara yang memerahkan malam
Tak surut pula niat bapak demi beberapa dulang kepingan mata uang
Beralih pada gendhingan 'dewa ruci'  pula lelagu yang dimainkan
Menggantikan rona rupa malam dengan pagi yang melenakan
Tetapi hujan masih mengguyur bumi dengan riang dan Tak jua mereda

PAGI TEMAN DAN BANGUNLAH KAWAN


Sabtu, 20 April 2019

bicang cinta

 

                      Mencinta apa kadarnya

Melangkah kita berdua
Menikmati ayunan semesta bersama
Bersama arungi sajian sang pencipta
Alam raya bersama dan bercengkrama
Liar dan apa adanya pula semestinya
Kamu dan aku berdua saja
Alam dan rimba bersua sahaja
Rintik dan hujan temani sepi pekat malam
Rembulan meniup kesiur dinginnya
Menilik lingkungan kita berada
Berjalan bersama kita rengkuhi rasa
Cinta tumbuh entah demi apa
Karena hakikat rasa takkan ada
Tanpa karena aku mencinta
Kau dan aku berdua saja
Dunia dan isinya mereka sahaja
.......